Rabu, 11 Juli 2012

Survival

 Mendengar sebuah cerita dari seorang teman tentang seorang teman, yang (menurutku) menggelikan. Entahlah. Mungkin aku yang kurang bisa memahami sikap seperti itu, atau mungkin memang dia yang terlalu berlebihan.
***
Berencana mengajar di sebuah pesantren di daerah yang (lumayan)
pelosok. Dia pun berangkat ke sana dengan tekad yang mungkin setengah bulat. Karena awalnya dia tak bersedia, tetapi setelah dipujuk akhirnya mau juga. Dan datanglah ia ke sana, mengenal lingkungan yang mungkin menurutnya sangat jauh dari bayangannya; tempat yang pelosok, asrama yang ‘menyedihkan’ buat anak-anak, makanan yang disediakan sungguh (mungkin) membuatnya tak ingin memakannya.
Walhasil, dia pun tak tahan dan pulang ke tempat asalnya; hari ini datang, besoknya percobaan, besoknya lagi langsung pulang ke kampong halaman. Fiuuh!!! {bukan orang lapangan ni keknya, :)}

Dosen ekologi lingkunganku (orang lapangan) pernah berkata yang maksudnya kira-kira; bagusnya jadi orang lapangan, bisa survive di mana saja. Aku setuju banget. Memang harusnya begitu. Seorang guru, yang dibekali padanya ilmu pengetahuan, yang ia dituntut untuk menyalurkan ilmunya, harusnya bisa menempatkan diri di mana saja. Karena tak semua sekolah punya fasilitas seperti yang kita punya waktu kuliah. Itu salah satunya. Salah duanya J, bahwa dia juga harus bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya nanti seandainya dia menjadi guru untuk sebuah daerah yang sangat jauh dari kesempurnaan fasilitas, inilah survival. Ini juga menuntut sacrifice, pengorbanan.

I felt so lucky that I ever lived at ‘asrama’ sekolah sewaktu ‘Aliyah dulu. Asrama yang bagi sebagian orang (mungkin) menyedihkan.1 rumah dengan 8 buah kamar, ditempati sekitar 30 orang. Kamar yang ukurannya hanya sekitar 4x3m, ditempati 4-5 orang, dengan seperangkat peralatan masing-masing di dalamnya. Can u imagine it??!! Untung saja dapurnya di luar. Kamar mandi? Hanya satu. Bayangkan bagaimana rebutannya mandi, berkejaran dengan jam masuk sekolah; 7.15 pagi. Bahkan tak jarang mandi sebelum subuh menjelang.

Ketika kuliah, kosnya pun rasanya tak jauh berbeda dengan asramaku dulu; suasananya. Rumahnya kecil. Mungkin orang yang melihat dari luar tak (bisa) percaya kalau rumah itu memiliki 10 kamar. Dengan 2 orang tiap kamarnya, berarti penduduknya (idealnya) 20 orang. 2 kamar mandi. Seperti di asrama juga; rebutan ngantri mandi :D. wkwkwkw.
Dan saat ini, aku bersyukur pada Allah atas takdir itu. Memberikanku banyak sekali pelajaran dan ibrah dari takdir itu.

#sometime I will upload photo of my ‘asrama’ (even it is become more ‘good looking’ right now), and photo of my tiny ‘kosan’…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan sepatah kata kat sini e....
Terime Kaseh